Beberapa
hari yang lalu saya menerima kabar bahwa seorang kenalan meninggal akibat
digigit ular di hutan. Saya mengenal Pak S, korban gigitan ular tersebut dari
Bapak, ayah saya sendiri. Bapak adalah seorang pedagang arang yang sering
membeli arang lantas menjualnya di daerah Kota Madiun dan sekitarnya. Pak S
adalah salah satu pemasok arang yang dahulu menjual arangnya ke bapak.
Ada
dua jenis penjual arang ke bapak saya. Arang pikul dan arang motoran. Arang
pikul adalah dengan memikul arang di sebuah pikulan dan meletakkan beban di
pundak manusia. Otomatis hanya dua karung arang yang bisa dibawa. Beberapa
tahun belakangan, ketika teknologi motor sudah merajalela hingga ke sudut-sudut
pedesaan arang pikul sudah mulai jarang, bahkan tidak pernah lagi ditemui.
Pak
S adalah orang yang saya kenang sebagai seorang penjual arang pikul. Masih
terngiang di benak saya, beliau adalah orang yang murah senyum, punya selera
humor tinggi, suka ngobrol dan cerita, berperawakan tinggi, dengan badan kurus
namun tegap berotot, sering bertelanjang dada dan keringat berleleran di
seluruh badannya karena memikul arang dengan menempuh jarak puluhan kilo demi
memberi nafkah keluarga. Saya seringkali diminta bapak atau ibu untuk
membuatkan segelas kopi untuk beliau, atau juga untuk penjual arang lainnya. Menghidangkan
segelas kopi atau kadang membeli gorengan ke warung tetangga sering kulakukan
demi menghormati tamu yang datang, siapa saja.
Beberapa
tahun terakhir, saya tidak pernah bertemu dengan Pak S ataupun penjual arang
pikul lainnya. Mungkin karena faktor usia yang tak lagi muda dan bisa jadi
menitipkan arang buatannya ke anak atau tetangga untuk menjual menggunakan
motor untuk bisa sampai ke penjual arang tingkat dua, seperti bapak. Membuat
arang adalah proses yang sangat sulit, karena harus menemukan kayu besar untuk bakal arang, menggali lubang yang
cukup besar untuk pembakaran, belum lagi proses pembakaran yang berhari-hari
tidak bisa instan. Setelah arang jadi harus mendistribusikannya supaya bisa
dapat uang, dari gubuk di hutan ke pedesaan menempuh berkilo-kilo meter untuk
dijual.
Kronologis kecelakaan yang membawa
maut pada Pak S adalah karena mata pencaharian Pak S berburu aneka hewan hutan,
seperti sliro, garangan, kijang dan trenggiling. Pada hari naas itu pak S memburu
seekor garangan yang masuk ke dalam lubang. Karena keahlian berburu yang baik,
garangan bisa dikeluarkan dari lubang. Saat mengecek lubang, mungkin
menggunakan galah dirasakan masih ada empuk-empuk di dalam lubang, Pak S lalu
mengulurkan tangannya ke lubang untuk mencari tahu.
Ular yang berdiam di dalam lubang
menggigit tangan pak S. Pak S menarik tangannya dan si ular masih menempel dengan eratnya di tangan. Alhasil Pak
S meraih sebuah belati atau parang untuk menebas tubuh si ular. Badan ular tertebas,
dan kepala ular dicerabut paksa dari tangan Pak S. Alhasil, ular mati dan Pak S
masih berjuang melawan racun yang disemprotkan ular ke tubuhnya.
Kisah ini diceritakan Lek Man, adik
Pak S yang menjual arang menggunakan motor ke rumah kami. Tragis, karena
sebagai adik Pak S, Lek Man baru diberi tahu sekitar magrib, kurang lebih jam
18.00. sedangkan waktu kejadian sekitar jam 9 pagi. Lek Man lantas marah kepada
anak-anak Pak S yang tidak segera memberikan pertolongan pertama. Pak S segera
dibawa ke rumah sakit RSUD Caruban oleh Lek Man dan keluarga. Tim dokter
bergerak dan mengangkat tangan tanda menyerah karena racun telah menyebar.
Pukul 01.00 dinihari Pak S dinyatakan tutup usia. Badan Pak S menghitam akibat
racun dan mengeluarkan darah di hidung dan telinganya. Tanda bahwa racun dari
bisa ular telah merusak seluruh jaringan tubuhnya.
Inilah takdir dan jalan hidup Pak S
sebagai manusia. Ajal kini telah menjemputnya, hanya doa yang bisa kita
persembahkan untuk beliau. Namun, dari kisah nyata ini bisa kita tarik
hikmahnya. Setidaknya kita harus belajar memahami kondisi orang yang sakit.
Kita harus tanggap untuk segera memberi pertolongan pertama atau membawa ke
rumah sakit kepada orang yang keracunan atau terkena bisa ular. Kita bisa
melihat bahwa Pak S memiliki daya tahan tubuh yang kuat, bisa bertahan hampir
16 jam setelah digigit ular. Tidak semua orang bisa memiliki daya tahan tubuh
sebesar itu. andai pertolongan segera diberikan, besar kemungkinan Pak S bisa
diselamatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar