Tampilkan postingan dengan label Refleksi Puasa Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Puasa Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Juni 2017

Target Ramadhan 1438 Hijriyah


Aku mempunyai planning yang akan kuupdate pelaksanaannya di akhir Ramadhan, supaya semangat dan jadi bahan evaluasi.

1.     Khatam Al-Qur’an 2 kali
2.    Ikut pesantren Ramadhan tanggal 9 Juni-11 Juni di Pesantren Ali Syafi’i Grojogan Kaligunting Mejayan. Jadi tanggal 9 kalau bisa sudah pulang ke Madiun.
3.    Sholat Tarawih tidak boleh bolong kecuali halangan
4.    Silaturahmi (sudah terlaksana, ke rumah Uswa Manyarejo, Plupuh, Sragen)
5.    Ke majlis Ar-Raudhah Habib Novel minimal 2 kali
6.    Ke makam Habib Ali, Pasar Kliwon

7.    Sholat di masjid Assegaf


Mengaji Al-Qur'an

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, maka ada perayaan Nuzulul Qur’an tiap tanggal 17 Ramadhan. Ramadhan selalu menyenangkan hatiku karena ada nuansa islami dengan pembacaan Al-Qur’an di mushola-mushola. Kalau aku di rumah, aku pasti juga ikut darus di Mushola Al-Ikhlas dekat rumah, aku adalah anak-anak yang paling tua dibanding yang lain. Hiks syediih.

Dalam bulan ini, aku rutin membaca Al-Qur’an dan mempunyai targetan khatam 2 kali. Waktu masih madrasah, aku sering menargetkan khatam 3 kali dalam sebulan dan akan mendapatkan reward dari bapak. Dapat reward, siapa yang tidak semangat?

Aku paling senang dijanjikan dibelikan astor kala lebaran menjelang. Astor adalah jajanan panjang-panjang mirip sedotan yang ditengahnya ada coklatnya. Pas aku kecil astor ini adalah jajanan wajib yang harus ada di meja rumah. Jajanan kesukaan soalnya. Biasanya dua toples, satu kecil dan satunya besar. Pernah pula aku minta mukena ke Bapak, dan dibelikan karena target khatamku terlampaui. Tapi seringnya minta astor sih.

Kala ku beranjak dewasa, wkwkwk, bahasanya. Saat sudah di bangku kuliah, targetan khatam Al-Qur’an masih tetap sama, namun tanpa reward khusus dari bapak. Bolehlah ini kusebut kesadaran pribadi untuk mendekatkan diri pada Allah. Mengaji sudah bukan karena astor, mukena atau iming-iming lainnya. Karena aku ingin.

Tahun ini aku mentargetkan 2 kali khatam A-Qur’an sebelum tanggal 27 Ramadhan, karena perayaan khataman di mushola biasanya pada malam ini. Kenapa secara kuantitas menurun dibandingkan dengan waktu madrasah? Karena kesibukan skripsian dan melakukan aktivitas lainnya.

Yah, patut disadari, makin gede kesibukan makin banyak. Sudah tidak bebas mau mentadarus Al-Qur’an kapan saja seperti dulu. Apalagi perempuan ada masa liburnya juga.

Berikut aku share pembagian waktu untuk Tadarus Al-Qur’an, yang semoga bisa bermanfaat.

1. ``Sholat Shubuh berjamaah di masjid, lalu tadarus 2 juz. Biasanya kurang lebih jam 6 sudah selesai.
2.    Bakda Sholat Tarawih 1 juz.

Maka jika dikalkulasi dalam sehari aku mentadarus 3 juz, target khatam 2 kali. 30 x 2 = 60.

60 : 3 = 20 hari. Nah, ini jika dilakukan secara istiqomah aku akan mencapai target khatam Al-Qur’an seperti yang kuharapkan. Kenapa masa aktif Cuma 20 hari, karena dikurangi 7 untuk masa haid, dan kutargetkan khatam sampai perayaan ambengan khataman tanggal 27 Ramadhan, jadi sudah sesuai.


Aku belum dari awal membaca Al-Qur’an 3 juz tiap harinya. Hingga detik postingan ini ditulis, baru dapat 19 juz. Hal ini karena awal puasa aku sakit pilek yang sangat mengganggu, kepala pusing dan badan meriang. Semoga walaupun belum sesuai rencana, aku bisa mengejar ketertinggalan dari target. Syukur-syukur melampaui. Aamiin. 

Ayo Rihlah

Pada bulan Ramadhan umat Islam berlomba-lomba untuk meningkatkan ibadahnya. Bagi kalangan santri yang masih di pondok pesantren, mereka akan semakin giat di pondoknya. Bagi masyarakat awam juga ada kesempatan untuk nyantri kilat di berbagai pondok pesantren yang membuka program ini. Kemarin aku merencanakan ikut pesantren kilat, tapi belum ada kesempatan, masih banyak tanggungan skripsian. Ya Allah semoga tahun depan di beri kemudahan ikut pesantren Ramadhan.

Beberapa hari lalu, saya sempat membaca berita seorang santri di Kediri yang bersepeda demi ngaji tholabul ilmi ke Pesantren Gus Mus di Rembang. Hal ini sangatlah menginspirasi, apalagi sekarang bulan Puasa, ia tetap setia mengayuh pedal walaupun panas matahari sangat terik memanggang bumi. Aku pernah melakukan perjalanan bersepeda pada bulan puasa juga, dan rasanya sangat berat.

Dan kala itu nyatanya aku kuat hingga adzan magrib berkumandang. Jadi selama ada niat yang tulus ikhlas tanpa pamrih, semua hal berat akan terasa ringan. Saya percaya, mas santri yang bersepeda itu tak mengasihi diri sendiri, ia berusaha keras mengayuh pedal hingga Rembang. Aku yakin jauh di lubuk hatinya ada kebanggaan karena bisa mengalahkan ego, sabar mengatasi tiap halangan rintangan di jalan, hingga bisa sampai tujuan.

Terkadang, orang merasa takut untuk bepergian. Takut karena tidak ada kenalan, takut mengalami hal buruk di jalan atau takut sengsara. Padahal, dengan berpetualang dan bepergian, kita akan bertambah pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Kenalan, memang kita tidak punya saat ini. Tapi yakinlah, banyak orang baik di sekitar kita, yang akan menjadi penolong kita jika kita sumeh, sopan dan tetap menjaga prinsip.
Takut mengalami hal buruk? Harusnya bisa diantisipasi. Jika kita nalar, jalan kaki saja kita beresiko tersandung bila tidak hati-hati. Maka sebelum merencanakan suatu perjalanan, lakukan manajemen resiko. Jika naik kendaraan pribadi (motor atau mobil) cek semua surat-surat dan kondisi kendaraan, untuk bawaan diatur sedemikian rupa supaya tidak terlalu menghalangi gerak langkah, dan untuk uang saku, bisa disimpan di beberapa tempat yang berbeda. Antisipasi bisa dipikirkan sejak jauh hari, jadi tak perlu takut dengan resiko.


Kalau takut sengsara? Ini yang susah. Normalnya manusia menyukai keadaan yang tenang dan jauh dari resiko. Daripada berpeluh di jalanan, kan lebih enak nyaman di rumah, di depan tv, di depan kipas, sedia bantal buat sandaran. Hehehe. Namun, percayalah ketika kita mencoba hal-hal baru, kita akan kaya pengalaman. Jika berbicara dengan teman pun akan lain. Kita bisa punya kepercayaan diri karena mengetahui secara real life perjalanan yang kita lakukan. Tidak hanya katanya-katanya.

Sabtu, 13 Mei 2017

Refleksi Menjelang Puasa Tahun 2016

Ternyata aku setahun yang lalu pernah sefrontal ini. Ditulis pada tanggal 27 Mei 2016, tersimpan di laptop, unpublish dan sekarang baru kuposting. Dulu aku pernah segila dan seblak-blak an ini. Ternyata dalam setahun aku bisa merubah pola pikir dari yang cenderung skeptis dan sekarang aku bisa berpendapat yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya.

Berikut tulisanku setahun lalu, tanpa edit. Besok aku akan membuat refleksi tentang puasa dengan pengetahuanku yang sekarang.

Kelompok Sosial