Kamis, 06 Agustus 2020

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

Halo... kali ini kita akan membahas apa itu Sosiologi. Sebagai siswa yang baru saja menginjak bangku SMA kalian pasti bertanya-tanya, apaan sih mata pelajaran Sosiologi itu. Sebenarnya, Sosiologi sedikit banyak sudah kalian pelajari di bangsu SMP, yang terangkum dalam pelajaran IPS. Karena jenjang pendidikan kalian semakin tinggi, kelompok mata pelajaran IPS pun juga terpecah kedalam beberapa bidang studi seperti sejarah yang membahas aneka peristiwa di masa lalu, geografi yang membahas aneka gejala alam, ekonomi yang membahas tentang money, money, money dan Sosiologi. 



Gampangnya Sosiologi adalah tentang kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Mulai dari sosialisasi sebagai anggota masyarakat, nilai dan norma yang harus ditaati supaya selaras dengan masyarakat, konflik, penyimpangan, hingga metode penelitian. Banyak istilah-istilah baru yang akan kalian pelajari. Tidak perlu dihafal, cukup sering-sering membaca dan menggunakan nalar, niscaya kalian akan bisa belajar dengan menyenangkan.

intronya cukup sekian, yuk masuk ke ringkasan materi. jangan terpaku hanya dari isi modul saja ya, kalian bisa belajar Sosiologi dari banyak sumber. 

A. Ilmu Sosiologi

Istilah sosiologi merupakan hasil serapan dari kata bahasa inggris yaitu sociology. Apabila dirunut dari akar bahasa, sociology berasal dari kata socius dan logos. Socius berasal dari bahasa latin yang berarti teman, sedangkan logos berasal dari bahasa Yunani berarti perkataan, pembicaraan atau ilmu. Dengan demikian, secara harfiah sociology atau sosiologi diartikan sebagai ilmu yang memperbincangkan pergaulan hidup manusia.

Masyarakat merupakan objek sosiologi. Akar kata masyarakat diambil dari bahasa arab musyarak yang berarti 'bersama-sama'. Karena itu sosiologi terfokus pada hubungan atau relasi antarmanusia dan mempelajari proses atau dinamika yang terjadi dalam hubungan tersebut.

B. Ciri-ciri Sosiologi

1. Empiris berarti sosiologi didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.

2. Teoritis, berarti sosiologi selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.

3. Kumulatif, berarti teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperhalus dan memperluas teori-teori lama.

4. Nonetis, berarti sosiologi tidak memberikan pandangan baik atau buruk terhadap fakta tertentu, tetapi menjelaskan fakta tersebut secara ilmiah dan mendalam.

C.Hakikat Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Sebagai Ilmu Pengetahuan, Sosiologi memiliki sejumlah sifat yang menjadi hakikatnya, antara lain: ❖ Sosiologi merupakan bagian dari Ilmu Social atau Social Studies , bukan Ilmu Alam apalagi Ilmu kerohanian
❖ Sebagai ilmu, Sosiologi bersifat kategoris, bukan normatif. Artinya bahwa sosiologi membatasi dirinya dalam kerangka realita yang terjadi di dalam masyarakat bukan apa yang seharusnya terjadi.
❖ Sosiologi bukan ilmu terapan melainkan ilmu pengetahuan yang murni (Pure Science). ❖ Sosiologi adalah ilmu pengetahuan abstrak bukan konkret karena yang menjadi objek kajian adalah bentuk atau pola prilaku dan peristiwa dalam masyarakat. ❖ Sosiologi pada hakekatnya adalah ilmu pengetahuan yang empiris rasional jika dilihat dari metode yang dipergunakan. ❖ Sosiologi bukan ilmu khusus melainkan ilmu yang sifatnya umum karena ia mempelajari gejala umum dari interaksi antara manusia. ❖ Sosiologi sebagai ilmu memiliki tujuan untuk mendapatkan pola pola yang sifatnya umum dengan meneliti dan mencari prinsip atau hukum umum yang mendasari interaksi manusia. Sumber : Sosiologi Kelas X Penerbit Intan Pariwara





Kamis, 09 Mei 2019

Refleksi malam kelima Ramadan 1440 H

Malam berjubah hitam, ditemani bulan sabit terang menyala serta taburan bintang gemintang. Biasanya jam segini sudah tidur. Entah kenapa di malam kelima ramadhan ini malah tersasar scroll Instagram beberapa kenalan, mulai dari kakak kelas, teman seangkatan waktu kuliah hingga dosen yang ternyata malah belum saya follow back. Ini karena murni tidak tahu sebelumnya.

Setelah hampir dua tahun lulus dan tidak berdomisili di Solo, berpisah dengan kawan dan sahabat, banyak yang sudah bertransformasi atau berubah. Semua bisa dilihat dari jejak digital mereka di Instagram yang merupakan aplikasi must install on di tiap gadget.

Kebanyakan menampilkan jejak tempat mana saja yang mereka kunjungi selama ini. Ada yang menampilkan kegiatan sehari-hari. Ada pula yang menampilkan cover lagu, ataupun cover dengan alat musik.

Dan, baru saya sadari, seorang bapak dosen yang bersahaja dan baik hati, memfollow akun Instagramku, dan belum ku follow back. Pada kesempatan malam ini baru ku follow back, saya merasa sudah sangat out of date atau (ketinggalan zaman) karena jarang mengakses aplikasi yang sedang tren beberapa tahun belakangan ini. Penyesalan mendalam, seolah saya orang angkuh yang tak tahu diuntung.

Hal ini ditengarai oleh beberapa hal. Masa-masa sulit pasca lulus salah satu diantaranya, juga lantaran handphone yang saya gunakan sudah termasuk jadul (meskipun sudah android), ukuran ram satu giga, yang memaksa saya hanya menanamkan aplikasi WhatsApp untuk percakapan teks sehari-hari dan wps office untuk membuka file dokumen yang berhubungan dengan pekerjaan. Sekitar 5 tahun saya akrab dengan handphone lama merk Lenovo A328, yang meski sering memory penuh, sinyal susah dan sulit mendownload, tapi jarang rewel dan tentu hemat kuota.

Keinginan untuk berganti hp terpendam sejak lama. Yang saya lakukan adalah menabung sebagian gaji sambil menunggu momentum untuk ijin orang tua. Bagaimanapun, orang tua adalah tipe konservatif, yang melihat pembelian barang dari segi nilai guna, bukan dari nilai estetika dan tuntutan zaman. Hingga akhirnya hp lama rusak sedikit pada bagian charger yang lama dalam mengisi daya.

Kesempatan saya mengupgrade handphone dengan Oppo A5s yang lebih baik spesifikasinya. Install beberapa aplikasi yang saya inginkan dan butuhkan menjadi lebih mudah.

Dulu, Saya yang mulai nyaman dengan rutinitas harian, menerima pola kehidupan yang statis, dengan instagram melihat lagi perkembangan orang-orang yang dulu pernah saling sapa dan berbagi ketika di bangku perkuliahan.
mereka memiliki kehidupan yang dinamis,  serta prestasi yang beraneka warna. Prestasi akademis, prestasi karir, prestasi romansa dengan membentuk mahligai perkawinan, prestasi sosial dengan aktivitas organisasi dan komunitas, prestasi literasi dengan menerbitkan buku. Betapa hidup mereka jauh berwarna dan sempat terdokumentasikan.

Bukan hendak ingkar terhadap nikmat Tuhan. This two years, banyak hal yang terjadi dalam kehidupan tiap insan. Include saya didalamnya. Proses menemukan kembali who am i, Proses menjadi keluarga besar SMA N 1 Mejayan, mengajar di kelas sosiologi, menjadi pembina ekstra PIK Remaja, menjadi juri lomba dakwah dalam rangka isra' mi'raj, tamasya bersama keluarga besar SMA N 1 Mejayan ke Jatim Park 2, studi kolaborasi kelas X ke Sangiran dan Mangkunegaran, mendampingi siswa lomba pemilihan duta genre, menghadiri beberapa walimahan teman, hadir di pengajian, mengaji di mushola Al Hikmah, menjadi guru les untuk anak-anak SD, mencoba berbagai resep baru, membaca buku-buku fiksi dan pelajaran Sosiologi, sakit tipes beberapa Minggu, semua seperti mozaik kehidupan yang terangkai untuk saya dua tahun ini.

Namun, bukankah hari esok harus lebih baik dari hari ini maupun hari kemarin? Ya, saya harus memacu semangat saya. Bukan menggunakan standar pencapaian orang lain, yang ada malah iri hati. Tapi menaikkan standar kinerja diri sendiri untuk mencapai kebahagiaan dan kebermanfaatan untuk orang lain.

Teringat obrolan dengan cimut sewaktu mengaji di mushola tadi, dulu sewaktu saya telling story' di panggung dengan boneka tangan (sewaktu Mts atau MA), yang memotivasi nya untuk belajar bahasa Inggris. Kenangan dan cerita apa yang kubawakan kala itu sudah lupa, tapi terkenang di ingatan orang lain, dan memotivasinya membuat saya merasa berharga.

Tentu ada masa ketika ingin seperti orang lain. Prestasi dalam beberapa indikator pencapaian kehidupan manusia yang belum tercapai. Menikah misalnya.

Menemukan seseorang yang tepat, seperti suatu misteri illahi. Allah tahu waktu terbaik untuk tiap rezeki, jodoh dan maut tiap insan. Bukan pasrah, tapi berfokus pada kesempatan memperbaiki diri, berkarya dan bermanfaat untuk orang lain. Sembari selalu berdoa, yang terbaik diantara yang baik-baik.

Minggu, 05 Mei 2019

Tips Mengobati Jerawat dengan Budget Minimal

Jerawat adalah salah satu tanda bahwa seseorang sudah memasuki tahapan usia remaja. Dulu, sewaktu masih bersekolah di tingkatan aliyah atau SMA, saya pernah mengalami masalah wajah berjerawat yang sangat mengganggu. Wajah yang dipenuhi jerawat membuat seseorang tidak pede dengan penampilannya.

Banyak upaya yang saya lakukan untuk mengobati jerawat membandel. Meski waktu sudah banyak berlalu, namun sepertinya postingan mengenai pengobatan jerawat ini layak dibagikan. Mengingat, beberapa teman masih menanyakan pengalaman pribadi saya dalam mengatasi jerawat.

Apalagi momen bulan ini adalah bulan ramadhan. Dulu, saya memanfaatkan momen Ramadhan untuk mengobati jerawat. How can? Karena saya jadi teratur membersihkan wajah, karena motivasinya supaya lebaran bisa tampil lebih kinclong
Tips saya sangat mudah dilakukan, bahkan untuk orang yang paling malas gerak sekalipun.

Oh iya, untuk waktu pemakaiannya saya gunakan setelah tadarus Al-Qur'an sekitar jam 23.00 sekaligus persiapan sebelum tidur.

Untuk harga barang sangat terjangkau, berkisar 6000-6500 per item. Sangat jauh lebih murah dari perawatan krim dokter dan tentunya ramah di kantong.

Cukup siapkan :



1. Viva pembersih (Viva milk cleanser) varian apa saja yang cocok dengan tipe kulit anda. Kalau saya pakai yang original supaya tidak terlalu perih di wajah.

Cara penggunaannya : Oleskan pada wajah secara merata, lalu massage atau pijat dengan lembut, hati-hati di sekitarnya area mata. Setelah itu, angkat menggunakan kapas. Kotoran-kotoran akan terangkat dan kelihatan di kapas.

2. Viva penyegar (Viva Face Tonic)
Saya cocok memakai Viva original, selain menimbulkan efek bersih, juga tidak terlalu kering di wajah.

Cara penggunaannya : tuangkan cairan face tonic ke atas kapas, lalu usapkan ke wajah. Niscaya, efek segar akan kalian dapatkan.

Lakukan setiap hari, setelah tadarus Al-Qur'an, sebelum tidur. Jika dilakukan dengan konsisten / istiqomah insyallah akan menampakkan hasilnya.

Sampai sekarang pun, saya masih melakukan rutinitas ini sebelum tidur. Yah, meskipun tidak rutin setiap hari.

Selain itu, jangan lupa sering-sering mengganti sarung bantal, karena bisa menjadi sarang bakteri. 

Sekian pengalaman pribadi saya dalam mengatasi jerawat yang membandel. Semoga bermanfaat. Happy reading...

Rabu, 13 Februari 2019

Perubahan

Kita pasti sering mendengar adanya perubahan, baik yang menuju arah positif maupun negatif. Yang positif tentu menyenangkan sanubari, tak hanya sendiri, juga untuk orang lain di sekitar yang menyayangi kita. Perubahan ke arah negatif, akan menjadi sorotan bahkan gunjingan. Semuanya menjadi realitas dalam kehidupan.

Hari ini misalnya. Ada kabar tentang promosi jabatan salah satu rekan guru yang menjadi kepala sekolah. Kabar baik, tak hanya bagi bersangkutan, tapi juga rekan sejawat turut berbahagia dan berbangga.

Beliau memang pribadi yang ulet, rajin, taat dalam beribadah dan sederet hal-hal positif lainnya. Mengagumkan. Patut dicontoh. Layak diapresiasi. Perubahan yang positif karena, dengan prestasi kerja, seseorang bisa melakukan mobilitas vertikal naik. Dari guru, dengan jabatan sebagai Wakasek kurikulum menjadi seorang kepala sekolah. Yang tentu memiliki tugas dan wewenang yang lebih besar dalam dunia pendidikan.

Perubahan di sekolah yang ditinggalkan tentu akan menyebabkan gejolak di awal. Akan ada perubahan dalam struktur organisasi sekolah, pergantian jadwal mengajar untuk mata pelajaran yang diajarkan oleh beliau dan sederet rencana yang biasa dihandle beliau membutuhkan penyesuaian-penyesuaian seperlunya. Namun saya yakin, dengan kerjasama, koordinasi dan komunikasi yang baik semua akan baik-baik saja. Bisa pula, menjadi lebih baik, karena sumber daya yang baru memiliki gagasan yang kreatif dan menunjang keberhasilan.

Semoga beliau di tempat yang baru juga menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Jabatan yang diemban tentu tidak seperti sebelumnya, ada hal-hal baru yang harus dihadapi. Semoga berkah untuk semuanya. Untuk beliau dan keluarga, yang memegang amanah. Juga berkah bagi kami yang akan ditinggalkan, karena akan belajar bagaimana ditinggalkan oleh seorang 'bapak' untuk bisa lebih mandiri.

Perubahan yang negatif, misalnya tentang kecenderungan penyimpangan sosial siswa dalam dunia pendidikan. Seperti yang dilakukan pelajar kelas XI  SMP Wringinanom Gresik. Siswa yang berperilaku buruk terhadap gurunya.

Sering kita dengar, adab lebih penting daripada ilmu. Seseorang yang beradab, akan bersikap tawadhu kepada orang yang menjadi lawan bicaranya, apalagi kepada orang yang lebih tua. Dalam hal ini adalah guru, yang mentransfer nilai dan ilmu kepada peserta didik. Kita harus menghormati setiap orang.

Tak apalah seorang siswa tak terlalu cemerlang dalam pelajaran, asal memiliki attitude yang baik. Anak diharapkan berperilaku sopan, karena hal itu mencerminkan kedalaman budi pekerti yang hendaknya selalu diasah dari hari ke hari.

Berita dari koran Jawa pos yang tadi saya baca, si anak sudah meminta maaf secara lisan kepada guru, dan dimaafkan. Tetapi si anak izin belum masuk sekolah. Meski ia mendapatkan sanksi dari sekolah, berupa kewajiban sholat dhuhur berjamaah selama sebulan di sekolah dan tidak telat lagi. Namun sepertinya rasa malu dan cemas dengan pandangan teman-teman membuat dia mengucilkan diri.

Semoga ia menyadari, meskipun perbuatan nya tercela, selalu ada pintu untuk memaafkan. Selalu ada jalan untuk orang yang ingin memperbaiki diri.

Semoga masalah ini cepat terselesaikan, demi cita-cita dan harapan generasi penerus yang lebih baik menyongsong Generasi Emas 2045.

Senin, 17 September 2018

Menelisik Ajaran dan Toleransi terhadap Aliran Kebatinan Ilmu Sejati Desa Sukorejo Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun


Menelisik Ajaran dan Toleransi terhadap Aliran Kebatinan Ilmu Sejati Desa Sukorejo Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun

Oleh : Nuryanti (K8413057)
Mahasiswa Sosiologi Antropologi FKIP UNS Surakarta

Saradan dalam Sudut Kepercayaan

Kecamatan Saradan adalah kecamatan di bawah administrasi Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Data statistik agama yang dianut oleh masyarakat Kecamatan Saradan pada tahun 2013 adalah sebanyak 67.601 penduduk beragama Islam, 428 penduduk meyakini jalan Kristen Protestan, 330 penduduk beragama Katolik dan 7 orang berkeyakinan pada Hindu. (disarikan dari BPS, 2014). Namun, pada prakteknya masih ada agama lokal yang masih dijalankan. Agama lokal tidak dicantumkan dalam identitas diri karena dalam kebijakannya, Pemerintah Indonesia terminologi agama yang secara ilmiah maupun dalam pengertian bahasa semestinya digunakan untuk menyebut semua bentuk religi, dirubah pengertiannya secara politis, yaitu hanya untuk menyebut agama-agama besar (world religion) yang ada di Indonesia. (Soehadha, 2014:13).
Ada beberapa aliran kebatinan yang dianut oleh masyarakat Saradan. Diantaranya adalah ajaran Samin Surosentiko yang banyak dianut oleh masyarakat Desa Pajaran dan Desa Sumberbendo yang berbatasan langsung dengan daerah Bojonegoro. Hal ini mengingat daerah kedua desa yang masih banyak hutan dan agak terpencil dibanding desa lainnya. Ada pula masyarakat yang mengikuti aliran kebatinan Ilmu Sejati. Perguruan Ilmu Sejati berpusat di Desa Sukorejo Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun. Letak Perguruan Ilmu Sejati sangat strategis, karena terletak di jalan alternatif Madiun Surabaya. Selain itu Perguruan Ilmu Sejati menempati tempat yang lumayan luas, seperti halnya pendopo keraton ataupun pendopo balai desa. Tentu saja luasnya tempat Perguruan ini juga digunakan untuk pendidikan dan penanaman moral kebatinan bagi masyarakat penganutnya.
Mengenai Ajaran Ilmu Sejati, penganutnya sudah menyebar ke seluruh Pulau Jawa. Tidak terbatas pada masyarakat Saradan saja. Bahkan, Perguruan Ilmu Sejati juga mempunyai perguruan cabang yang terletak di Desa Ketanon, Wajak, Ngujang dan Ngantru di Tulungagung. Para Penganut yang tersebar masih mengamalkan ajarannya dan selalu berziarah dan meramaikan saat perguruan ini merayakan Hari Ulang Tahun setiap 10 November tiap tahunnya. Pada saat ulang tahun diselenggarakan kegiatan pesta yang sangat meriah dengan pementasan wayang kulit sebagai acara utama.


Sejarah Ajaran Ilmu Sejati di Desa Sukorejo
            Ajaran Perguruan Ilmu Sejati merupakan hasil pemikiran dari Raden Soedjono Prawisoedarso yang dituangkan ke dalam rumusan konsep perilaku manusia yang didasarkan ada lagir dan batin, di mana lahir ditujukan untuk negara (membela negara), sedangkan batin ditujukan ada Tuhan Yang Maha Esa. Konsep pemikiran Ilmu Sejati diambil dari intisari ajaran agama-agama resmi, namun dalam prakteknya ajaran-ajaran itu disamarkan ke dalam pemahaaman masyarakat Jawa yang bertujuan memudahkan para penganutnya untuk selalu dekat dan bersatu dengan Tuhan.
            Dalam bidang pendidikan, Perguruan Ilmu Sejati muncul sebagai suatu budaya spiritual yang di dalamnya terdapat sari ajaran agama-agama pemerintah sehingga menjadikan ajaran Ilmu Sejati dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Jawa dan seluruh umat beragama. Hal ini terbukti dengan adanya latar belakang daru penghayat ajaran Ilmu Sejati yang berasal dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Dalam ajaran perguruan Ilm Sejati pengaruh Islam sangat kuat dengan munculnya kalimat syahadat dikombinasikan dengan kalimat Jawa.
            Dalam perspektif anak-anak yang orang tuanya bukan penghayat, orang tua menginternalisasikan bahwa ajaran Ilmu Sejati adalah ajaran kebatinan supaya bertingkah laku yang baik dan sesuai dengan aturan norma yang digariskan oleh Pemerintah dan lingkungan tempat mereka tinggal. Namun, yang disayangkan oleh orang tua adalah para penghayat itu tidak menjalankan ajaran syariat agama yang mereka anut. Misalnya, orang yang beragama Islam, ikut Ilmu Sejati mereka malah meninggalkan sholat yang merupakan tanda Islam santri. Dan bagi orang Kristen, mereka jarang pergi ke gereja untuk beribadah.
            Masyarakat di daerah Saradan, bisa dilihat dari data statistik BPS mayoritas beragama Islam. Namun, dalam kehidupan sehari-hari belum menjalankan syariat harian seperti sholat 5 waktu. Hal inilah yang dalam tesis Clifford Geertz salah satu ciri sebagai Islam Abangan. Bagi mereka tidak ada bedanya mereka yang bukan penghayat Ilmu Sejati dengan penghayat. Namun, masyarakat jarang yang berkeinginan untuk menjadi penghayat.
Ajaran Perguruan Ilmu Sejati
Ada tiga ajaran penting yang tertulis dalam surat penget Ilmu Sejati, yakni ajaran mengenai Tuhan, ajaran tentang manusia dan ajaran tentang moral. Tuhan dalam Ilmu Sejati merupakan sumber segala sesuatu, yang merupakan asal sangkan paraning dumadi. Seperti halnya dalam ajaran kebatinan yang lain, dalam Ilmu Sejati ingin mencapai suatu kesempurnaan tekad yang diistilahkan dengan kaji yaitu Jumbuhing Kawula Gusti (bersatunya manusia dengan Tuhan) . Manusia disuruh berusaha mencari keberadaan Tuhan dalam diri manusia. Tujuan Ilmu Sejati adalah sama dengan agama lain dan anggapan ini disebabkan karena Gusti Alloh (Tuhan) adalah suci, tidak berkehendak, tidak berwujud, tidak bisa dilihat kecuali dengan mata batin
Dalam Perguruan Ilmu Sejati proses manusia kembali kepada sangkan paraning dumadi yaitu jumbuhing kawula Gusti yang di istilahkan denga Kaji merupakan suatu keharusan karena itu merupakan suatu kesempurnaan tekad seperti tuntutan dalam Penget di atas. Pada akhirnya yang harus dipahami bahwa di dunia ini yang ada hanya kawula dan Gusti, sehingga setelah semua kwajiban sudah dipenuhi maka akhirnya manusia itu akan manunggal (menjadi satu) dengan Gusti (Tuhan). Manusia harus beralih dengan kedudukan abdi “kawula” untuk mencapai kesatuan dengan Gusti yang lazim diistilahkan dengan manunggaling kawula Gusti . Untuk mencapai tingkat Kaji yaitu kesempurnaan, para murid Ilmu Sejati harus mensucikan dirinya dengan disertai mengamalkan Penget yang berisi ajaran budi pekerti luhur dan tidak meninggalkan kwajiban untukmelakukan sahadad sejati dan salat sejati. Yang terpenting dalam salat dan sahadad adalah masalah batin baik pelaksanaan maupun sikapnya.
Kebatinan sebagai aliran kepercayaan yang di dalamnya membicarakan masalah ke-Tuhanan, Nampak pada suatu upaya penafsiran batin sebagai akar kata kebatinan. Pada kenyataannya setiap aliran kebatinan memiliki ajaran tentang ke-Tuhanan, meskipun banyak diantaranya hanya memberi gambaran tentang ini secara tidak mendalam. Dalam ajaran Perguruan Ilmu Sejati sendiri misalnya, dikatakan bahwa batin adalah merupakan salah satu dari nama Allah yang disebut dengan nama Gusti Allah atau Gusti Kang Moho Kuoso.
Larangan bagi pengikut Ilmu Sejati berkaitan dengan ke-Tuhanan adalah larangan untuk menyekutukan Tuhan. Hal ini telah disebutkan dalam surat Penget nomor 8 yaitu : saksaget-saget anyegaho dating lampah utawi kelakuan dateng pangiwo. Memundi kayuwatu sarto miturut dateng gugon Tuhan sesaminipun, hinggih puniko nyakutu Allah, tegesipun nyepele dateng kuasane Pangeran. Maksudnya : Sebisa mungkin mencegah perbuatan yang menyimpang, menyembah pada benda-benda sepertu batu dan kayu serta menurut saja perkataan orang lain, yaitu menyukutukan Allah, dalam arti menghina atau menyepelekan kekasaan yang Maha Kuasa.
Manusia menurut Ilmu Sejati harus bisa mengendalikan diri sendiri, harus sabar, tawakal, rela dan nrimo. Sabar berarti mempunyai nafas panjang dalam kesadaran bahwa pada waktunya nasib yang baik pun akan tiba. Nrimo berarti menerima segala apa yang mendatangi kita, tanpa protes dan pemberontakan. Nrimo termasuk sikap Jawa yang paling dikritik, karena disalahpahami sebagai kesediaan untuk menelan segala-galanya secara apatis. Nrimo berarti bahwa orang dalam keadaan kecawa dan dalam kesulitanpun bereaksi dengan rasional. Rela atau ikhlas berarti “bersedia”.
Meskipun dalam ajaran Ilmu Sejati menggunakan istilah agama Islam, namun artinya sangat berbeda. Salat dalam Ilmu Sejati adalah dalam batin, bertujuan untuk mengetahui kedudukan manusia baik di alam semesta dan manusia dengan Tuhan. Gerakan lahiriah tidak diutamakan, dan juga tidak harus menghadap pada satu arah tertentu. Dalam hal puasa juga berbeda. Istilahnya adalah puwoso pelaksanaan puasa ini menurut keinginan hati dan tidak ditentukan waktunya menurut peraturan. Bagi orang Islam boleh melaksanakan puasa secara Islam atau juga puasa cara Ilmu Sejati. Seorang wakil mirid melaksankan puasa yang disebut puasa batin, yaitu bukan mencegah makan dan minum, tetapi juga mencegah semua perilaku dan keinginan
Dengan demikian kebatinan seperti halnya Ilmu Sejati ini dapat digolongkan sebagai monotheisme, sebagaimana gambaran Tuhan pada agama-agama besar seperti Islam dan Kristen. Namun di sisi lain, Tuhan itu dianggap hanya sebagai “ide” yang berada jauh diseberang ciptaan-Nya, bahkan lepas dari segala hubungan. Ia dipandang sebagai yang mutlak dalam arti metafisis, yang diungkapkan dengan : tan kena kinaya apa, tan kena winirasa yaitu yang tidak dapat direka-rekakan oleh pikiran manusia. “Laku” dalam Ilmu Sejati adalah menuntun murid agar berlaku andhap ashor, budi pekerti yang baik serta harus percaya diri dalam menghadapi apa saja. Untuk itu yang diperlukan adalah melatih diri dengan sabar. Tujuan latihan adalah berusaha mengalami secara intuitif kehadirat Tuhan. Caranya harus melalui ketenangan batin dan mempertajam “rasa”.
Ajaran dalam Ilmu Sejati dikatakan bukanlah klenik atau mistik tetapi suatu budaya spiritual untuk mencapai budi pekerti yang luhur. Namun dalam hal ini di antara dorongan atau motivasi seorang murid untuk masuk sebagai warga perguruan Ilmu Sejati tidak lepas dari hal-hal yang bernuansa mistik. Misalnya seseorang yang ingin mendapatkan perhatian dari orang lain untuk diberi belas kasihan, maka meminta wirid agar tercapai tujuan tersebut. Dalam Ilmu Sejati hal yang demikian ini disebut dengan “gaib”.
Pengikut ajaran Ilmu Sejati harus menjadi warga Negara yang taat pada Undang-undang Dasar dan Pancasila. Mereka harus terlibat aktif dalam menjaga ketentraman umum. Perguruan Ilmu sejati mempunyai sifat kekluargaan dengan mengedepankan terwujudnya ketentraman dan keamanan dalam kehidupan rumah tangga. Ketentraman dalam rumah tangga inilah yang merupakan pilar untuk menegakkan perdamaian bangsa dan Negara. Jika ketentraman dalam rumah tangga tercipta dan mampu dijadikan landasan dalam kehidupan berbangsa, maka hak-hak individu dan kebebasan manusia dapat terpenuhi.
Kekeluargaan dan perikemanusiaan di atas harus tumbuh dan berkembang di seluruh lapisan masyarakat secara merata. Tanggung jawab itu dipikul bersama secara gotong-royong untuk mencapai keadaan dan kesejahteraan lahir dan batin. Untuk itu dibutuhkan kesadaran kolektif bagi semua anggota pengikut aliran kebatinan untuk berbuat baik kepada sesama.
Tujuan mendasar yang ingin dicapai perguruan Ilmu sejati ini adalah terwujudnya ketentraman umum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dalam wujud Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan ini merupakan puncak dari segala perbuatan manusia yang melakukan darma bakti sebagai insan yang mengabdikan diri dalam kewajibannya untuk menyatukan hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini menunjukkan bahwa setiap pengikut ajaran perguruan Ilmu Sejati harus mampu memandang dan memperlakukan orang lain seperti mereka memandang dan memperlakukan diri sendiri. Melakukan perbuatan apapun harus didasari welas asih kepada makhluk ciptaan Tuhan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, perguruan Ilmu sejati melakukan upaya-upaya terencana yang diarahkan bagi pengikutnya. Pertama yaitu mendidik dan memberi penerangan pada penganutnya tentang sejarah diri (sejatining manungso) yang merupakan pokok kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan kemampuan diri yang bersumber dari-Nya. Kepercayaan ini berimplikasi pada kesadaran manusia untuk berani membela kebenaran dan keadilan dengan menjauhi segala perselisihan. Mengenal sejarah diri artinya menghormati para pendahulunya dengan prinsip Ketuhanan.
Kedua yaitu membangun manusia yang berbudaya yang berkepribadian Jawa dengan semangat gotong royong. Manusia berbudaya ini digambarkan melalui masyarakat yang mandiri dengan mempertahankan budaya-budaya lokal dan dikontekstualisasi sesuai dengan dinamika kehidupan, sehingga tetap tertanam sikap cinta tanah air.
Ketiga yaitu berupaya agar hak-hak dan kebebasan masyarakat Indonesia dapat terwujud. Hak asasi dan kebebasan merupakan faktor penentu bagi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Tidak ada keadilan dan kesejahteraan jika hak dan kebebasan warga dikekang.
Meskipun tidak ada kurikulum tertulis untuk melakukan segala aktivitas pendidikan, tetapi proses penanaman moral harus berlangsung. Makna pendidikan ajaran perguruan Ilmu sejati adalah pentingnya pendidikan moral bagi semua pengikutnya. Pendidikan moral ini ditanamkan sejak lahir. Anak-anak sudah dikenalkan dengan nilai-nilai baik dan buruk secara terus menerus. Proses penyampaian ajaran moral ini sebagai pembawaan sosio kultural, yakni penerusan pengetahuan tentang moral yang disampaikan lewat bahasa dari generasi ke generasi. Misalnya lewat buku-buku, adat istiadat, sopan santun, tata upacara keagamaan, dan sebagainya.
Adat istiadat merupakan tata kelakuan yang kuat dan kekal integrasinya dengan perilaku. Melalui adat istiadat masyarakat setempat inilah pendidikan moral ajaran aliran kebatinan diresapi dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai bentuk dan rupa. Dengan adanya hukum-hukum di atas, maka manusia akan berusaha mengendalikan dirinya untuk berbuat baik dan manuju kesempurnaan. Dengan hidup yang berkarakter, maka manusia akan siap menghadapi perubahan dan perkembangan zaman.

Perspektif Antropologi melihat fenomena Ilmu Sejati
Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. (Suriasumantri, 2005: 40). Manusia dalam mengembangkan pengetahuannya tentu memiliki tujuan, begitupun dengan ajaran Ilmu Sejati. Tujuannya adalah untuk meraih kesejatian hidup, pemaknaan yang lebih mendalam tentang alam semesta, tingkah laku moral dan hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Dalam kuliah tamu Antropologi Religi yang disampaikan oleh Romo Dr. Bismoko Mahamboro pada Senin, 14 Desember 2015  Agama adalah sebagai sistem moral dan pengatur sosial. Moralitas adalah hal yang penting demi keselarasan hidup manusia. Dimana komponen sistem moral itu adalah keyakinan, cara pandang dan perilaku yang menjadi satu-kesatuan.
Meskipun moralitas adalah hal yang penting, tidak serta merta masyarakat menerima dengan tulus keberadaan Perguruan Ilmu Sejati. Penelitian Hernawati (2003) menyatakan bahwa Perguruan Ilmu Sejati bukanlah organisasi politik, melainkan budaya spiritual yang menuju kesucian dan ketentraman umum. Hasil Penelitian tersebut belum bisa menghilangkan pemikiran negatif masyarakat terhadap kebenaran dari Perguruan Ilmu Sejati. (dalam Purwanti, 2012).  Padahal, Lebih dari 500 suku bangsa di Indonesia merupakan pernyataan yang jelas untuk menunjukkan keragaman budayanya yang mencakup budaya, agama, ilmu pengetahuan, kekerabatan, sistem sosial, sistem ekonomi dan sistem politik yang dipraktikkan di tingkat lokal. Gerakan “Persatuan dan Kesatuan” yang dijalankan selama ini bukan sekedar menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut dalam suatu wadah yang memungkinkan kebersamaan tercapai; lebih dari itu telah menjadi cerita buruk tentang pembatasan ekspresi budaya dalam berbagai bentuk. (Abdullah, 2015: 64). Kebebasan berekspresi masyarakat dibatasi oleh prinsip persatuan dan kesatuan yang menyeragamkan, mindset ini terbawa hingga ke masyarakat awam yang membuat masyarakat mempunyai rasa curiga terhadap kelompok-kelompok aliran kebatinan.
Namun, ada kalanya masyarakat turut menikmati dan berperan serta dalam Perayaan HUT Ilmu Sejati yang diadakan tiap tanggal 10 bulan 10 (Oktober. Setidaknya masyarakat bisa menjadi pengunjung pasar malam ataupun menonton wayang sebagai puncak acara. Pertunjukan wayang yang mengangkat lakon mengenai kehidupan Ilmu Sejati dipentaskan dalam acara ini oleh dalang yang notabene adalah murid perguruan. Wayang adalah simbol media untuk mensosialisasikan ajaran ilmu sejati. Clifford Geertz memandang manusia sebagai makhluk yang selalu membangun pandangan-pandangan dunianya berdasarkan sistem simbol, dimana gambaran yang dibentuknya itu sekaligus berfungsi sebagai teori bagaimana seseorang harus hidup di dalam dunia tersebut. (Soehadha, 2014, 84).
Menarik apa yang disampaikan oleh Geertz, lakon pewayangan menjadi simbolisasi dan sosialisasi Ilmu Sejati ke luar  komunitas mereka. Dengan lakon yang disesuaikan yang mirip dan mewakili ajaran Ilmu Sejati, masyarakat menjadi tahu apa yang sebenarnya menjadi ajaran di dalamnya. Otomatis, perayaan Wayang kulit ini bisa menjadikan masyarakat lebih paham dan tidak mempunyai kecenderungan yang berlebihan untuk curiga. Jadi meskipun sudah 90 tahun perguruan berdiri di tengah-tengah masyarakat Saradan, perguruan ini jarang digrudug oleh massa maupun menjadi korban aksi kekerasan berbau SARA. Hal ini karena masyarakat sadar dan tahu bahwa ajaran Ilmu Sejati adalah Ilmu Utama untuk mencapai kesejatian hidup. Masyarakat menjadi aman dan harmonis tanpa ada kecenderungan untuk saling melukai. Karena, aspek keharmonisan inilah yang membuat masyarakat pedesaan merasa dekat dengan kelompok masyarakat sinkretis (Sutiyono, 2010:6). Apalagi, pemerintah nampaknya mendukung kegiatan Ilmu Sejati dengan kehadiran mereka dalam pergelaran wayang semalam suntuk. Masyarakat melihat ini adalah sinyal baik untuk berdamai dan menjaga toleransi, mengingat masyarakat Madiun memiliki kenangan pahit mengenai kekerasan yang menimbulkan banyak kerugian paska Madiun Affairs 1948.


Daftar Pustaka
Purwanti, Ida. 2012. Sejarah, Konstruksi dan Sosialisasi Ajaran Perguruan “Ilmu Sejati” (Studi pada Perguruan “Ilmu Sejati” di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung). Skripsi. Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Nur Hadi, M.Pd, M.Si. Pembimbing (2) Waskito, S.Sos, M. Hum
Sutiyono. 2010. Benturan Budaya Islam Puritan dan Sinkretis. Jakarta. Penerbit Buku Kompas
Abdullah, Irwan. 2015. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
BPS. 2014. Kecamatan Saradan dalam Angka Tahun 2014. BPS Kabupaten Madiun
Lampiran Gambar
Soehadha, Moh. 2014. Fakta dan Tanda Agama: Suatu Tinjauan Sosio-Antropologi. Jogjakarta: Diandra Pustaka Indonesia
Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

“Dian, Jangan Hujan-hujanan”


Beberapa hari ini sering sekali hujan. Hujan terkadang lebat, kadang turun berinai-rinai. Hari ini hujan turun dengan intensitas sedang. Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Dian masih masih tertahan di beranda kelas. teman-teman banyak yang sudah pulang. Mereka membawa payung untuk melindungi diri supaya tidak basah.

Dian ingin pulang, perutnya sudah keroncongan. Tapi hari ini dia lupa tidak membawa payung. Tadi pagi ia bergegas berangkat karena hampir telat. Sekarang dia menyesal karena tidak membawa payung. Dia takut dimarahi mama jika nekad hujan-hujanan.

Lisa datang menghampiri Dian.

“Dian, pulang bareng yuk. Payungku besar ini, bisa menaungi kita berdua. Oh iya. Maafin tadi pagi ya. Aku tidak sengaja”, sapa Lisa ramah.

Mendengar suara Lisa, Dian yang sebelumnya sudah gelisah malah tambah sebal. Apalagi jika ingat tadi pagi, di halaman yang becek, Lisa mencipratkan lumpur ke sepatu Dian.
“Gak usah. Aku bisa pulang sendiri”, jawab Dian ketus.

Dian berlalu meninggalkan Lisa, menerjang rinai hujan dengan mendekap tas yang harus dilindungi dari air hujan.

“Dian, jangan hujan-hujanan. Nanti sakit”, teriak Lisa dengan khawatir.

Teriakan Lisa diabaikan begitu saja oleh Dian. Dinginnya air hujan tidak lagi ia hiraukan. Sampai rumah, Dian basah kuyup dan kedinginan. Mama segera menyuruh Dian mandi dan ganti baju yang hangat.

Malamnya, Dian demam dan pilek. Rupanya hujan-hujanan membuat badan Dian menjadi sakit. Esoknya Dian ijin tidak masuk sekolah.

Dian terbaring lemas di kamar. Dia sebal sekali karena sakit tidak bisa bertemu dengan teman-temannya di kelas. padahal, saat istirahat ia sering bermain dengan teman-teman. Ia merasa kesepian.

Di kelas, Lisa yang tahu kabar Dian sakit segera berinisiatif mengajak teman-teman untuk menjenguk.

“teman-teman yuk menjenguk Dian. Kasihan dia pasti kesepian, apalagi rumahnya juga lumayan dekat”

Beberapa anak ikut menjenguk ke rumah Dian.

Di rumah, Dian merasa bosan. Ia merenungkan andai ia  menerima tawaran Lisa untuk pulang bareng memakai payung kemarin, pasti hari ini dia bisa masuk sekolah dan tidak sakit. Sakit itu tidak enak. Makan rasanya pahit, mau main tidak bertenaga dan harus beristirahat di rumah. Ia merenungkan, hanya karena rasa sebal atas kesalahan kecil Lisa, ia jadi marah dan akhirnya sakit karena hujan-hujanan.

Bel pintu berbunyi ting tong. Mama segera membukakan pintu.

Lisa dan kawan-kawan menyapa mama Dian. “Assalamu’alaikum, Bu. Kami mau menjenguk Dian”. Mama Dian menyambut baik kehadiran tamu-tamu kecilnya. Mama Dian langsung mengarahkan mereka ke kamar Dian.

“Wa’alaikum salam, nak. Oh iya silakan masuk. Dian sedang istirahat di kamar. Langsung kesana saja ya”

Sayup-sayup Dian mendengar temannya sedang bertamu menjenguk dirinya. Setelah bertemu dan ngobrol dengan teman-temannya, Dian ingat untuk minta maaf pada Lisa karena marah dan sebal ke Lisa.

“Lisa, maafin Dian ya. Kemarin Dian mengabaikan Lisa gara-gara kecipratan lumpur di sepatuku. Padahal Lisa gak sengaja. Harusnya aku gak marah sama Lisa. Lisa mau nebengin payung, eh akunya marah terus hujan-hujanan. Akhirnya demam gini”, kata Dian dengan tulus.

 “iya. Tak apa yan. Namanya juga manusia. pasti pernah berbuat kesalahan. yang terpenting kita harus berani minta maaf dan yang dimintai maaf tak usah memendam dendam. Karena dendam itu gak baik, membuat hati tidak tenang dan tidak bisa melihat sisi baik teman kita. Yang penting kita sekarang baikan ya. “ ujar Lisa..

“terima kasih Lisa. Janji deh, gak ngambekan lagi”.

Akhirnya mereka berbaikan dan bisa tertawa bercanda bersama lagi.

Tamasya Keluarga SMA Negeri 1 Mejayan Tahun 2018

Tanggak 14-15 September kemarin menyisakan kenangan yang tak terlupakan. Hal ini karena saya ikut wisata keluarga SMA Negeri 1 Mejayan ke Malang. Objek wisata yang dikunjungi adalah Jatim Park 2, Masjid Tiban Turen Malang dan Waduk Karangkates. 
Banyak sekali kenangan yang menyenangkan, melihat aneka satwa di kebun binatang Batu Secret Zoo dan tempat-tempat wisata yang lainnya. 

Dengan adanya tamasya ini, semoga semangat kerja untuk ke depannya jadi lebih meningkat. 

Kelompok Sosial