Kamis, 17 September 2015

PAPER MATERI SUICIDE EMILE DURKHEIM MATA KULIAH SOSIOLOGI KEPENDUDUKAN



PAPER MATERI SUICIDE EMILE DURKHEIM
MATA KULIAH SOSIOLOGI KEPENDUDUKAN






OLEH :
NURYANTI             K8413057







PENDIDIKAN SOSIOLOGI- ANTROPOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

Pengemasan Ruang dalam Menonton Televisi Buku Di Depan Kotak Ajaib



Resume Subbab Arena Konsumsi
Pengemasan Ruang dalam Menonton Televisi Buku Di Depan Kotak Ajaib
Tugas Pengganti UK Mata Kuliah Antropologi Budaya


Disusun Oleh  :
Nuryanti                      K8413057


PENDIDIKAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

Identitas Buku :
Judul Buku      : Di Depan Kotak Ajaib
Penulis             : Kris Budiman
Sub bab           : Arena Konsumsi Pengemasan Ruang dalam  Menonton Televisi (hal 35- 55)

Minggu, 13 September 2015

PERSPEKTIF CANTIK DAN INDUSTRI KOSMETIK



PERSPEKTIF CANTIK DAN INDUSTRI KOSMETIK

LATAR BELAKANG

Perawatan wajah dan kecantikan menjadi salah satu komoditas utama dunia industri saat ini. Siapa saja orangnya, pasti menghendaki wajah yang cantik sesuai dengan yang dia harapkan dan yang menjadi angan-angannya. Hal ini karena wajah menunjukkan usia, gender dan ras diri dengan bermacam-macam derajat keakuratan, juga kesehatan serta status sosial-ekonomi, suasana hati dan emosi kita, bahkan mungkin juga karakter dan kepribadian kita (Synnot, 2007:115). 

Tak heran sekarang ini banyak sekali iklan-iklan di media massa baik cetak maupun elektronKi yang menjual komoditas perawatan wajah dan tubuh. Mulai dari perawatan sabun cuci muka, lipstik, sabun mandi, eye liner, bedak, pelembab, pemutih, alas bedak, maskara dan lain sebagainya. Banyak pula merk yang beredar mulai yang bernada keindonesiaan seperti sari ayu, Viva cosmetics, Marina, citra dan mustikaratu, hingga produk merk dagang internasional seperti maybelline, garnier, pond’s, red A dan lain sebagainya. 

Tentang Kakakku



disini adalah tempat yang leluasa bagiku untuk menuliskan apa saja. Jadi tak seorangpun bisa melarang aku untuk menuliskan gagasanku. aku ingin bercerita tentang politik di salah satu UKM (Unit Kegiatan Madrasah Seni Religius di MA. Fatwa Alim Tulung. Sebatas yang kutahu. UKM SR adalah semacam UKM kesenian dalam musik gambus, dilengkapi dengan divisi lain seperti Qosidah, Sholawat, MC, Khot dan Qiro’ah. UKM ini juga melayani tawaran hiburan untuk warga yang hajatan baik pernikahan maupun sunatan.

Masalah aku kerucutkan pada setahun silam. Dan data kudapat dari stalking status tokoh-tokoh kenamaan di jajaran madrasah dan juga dari grup yang aku join di dalamnya. Selain itu, data juga dari berinteraksi dengan kakakku yang ‘pernah’ duduk di kursi panas menjadi ketua umum SR periode 2014.

Tahun 2014 kemarin bermakna special bagi SR. karena merayakan satu decade kelahirannya (10 tahun). Angka yang istimewa ya. Namun, masalah yang dihadapi pun juga istimewa. Supaya urut dan sesuai kronologi, aku lebih banyak menggunakan data berdasarkan ingatan mas nur. Dan, menggunakan pendekatan keuangan. Mengenai uang, siapa sih yang tidak tertarik untuk mendengarkan. 

Hujan di Lapak Semangka



Hujan terjadi malam ini. Merubah banyak hal. Hujan menyapu di tengah teori bahwa ini musim kemarau. Debu yang beterbangan hingga malam hari di depan lapak, tersapu oleh air yang tercurah dari langit. Hujan yang tiba-tiba datang, di bulan syawal, 4 Agustus 2015. Hujan datang di Desaku yang sedang musim nikahan, banyak suara sound menggelegar dengan aneka lagu, yang melambangkan sukacita dua insan yang disatukan dalam mahligai pernikahan. Jalan desa yang sudah teraspal mulus, dilalui oleh motor-motor yang kelabakan menghindari air yang semakin lama semakin deras. Sebagian besar pengendara memakai baju batik dan dandanan cantik untuk menghadiri resepsi nikahan. Kasihan. 

Aku disini. Di lapak semangka yang menjadi ladang usaha bapak dan keluarga. di pinggir jalan utama desa. Didekat pusat keramaian sekolah dasar, dekat lapangan dan juga dekat masjid. kebetulan malam ini yang jaga adalah aku dan kakakku. Bapak dan ibu jagong menghadiri resepsi pernikahan setelah tadi sore kami bercengkrama bareng di lapak semangka.  Kami ada disini, belajar berdagang semangka sejak bulan puasa tahun ini. Lumayan untuk menambah pengalaman dan kemampuan mengelola usaha. Mengingat dagangan diberikan terlebih dahulu oleh pemilik, dan kami tinggal menyetorkan uang modal padanya. Nyaris tanpa biaya yang besar untuk membuka lapak ini, kami mengeluarkan biaya untuk beli bambu penyangga lapak, tali rafia dan kresek untuk pembungkus semangka dan tentunya 8 tikar dan satu terpal untuk menjaga semangka dari sengat matahari. 

Malam ini hujan turun. Tak biasanya. Dan tentu bukan hal yang baik untuk pedagang semangka amatiran seperti aku dan keluargaku. Karena suasana dingin yang dihembuskan oleh hujan menyebabkan dahaga manusia menjadi tak terlalu terasa. Tak terlalu berhasrat mengkonsumsi buah semangka yang banyak airnya. 


Review Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah



Resensi Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Identitas buku
Judul               : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis             : Tere Liye
Tahun Terbit    : Desember 2014
Tebal Buku      : 513 halaman
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Resensi
Buku ini berjenis novel yangmerupakan karya fiksi pengarang Tere Liye. Ide yang ditampilkan tentang kisah cinta diambil dari sudut pandang seorang pemuda(Borno) yang bergonta-ganti pekerjaan. Berijazahkan SMA, tidak membuat si pemuda malu dan gentar untuk bekerja apa saja. tiada rasa gengsi yang biasa dimiliki oleh anak muda sekarang ini. Kisah keseharian yang bisa menjadi teladan anak muda sekarang. Tere Liye memang biasa mengangkat hal yang biasa di keseharian, menjadi titik perhatian yang jarang dilihat oleh orang lain. Prolog Dirangkai dengan kisah cinta yang dibuat sedemikian misterius mengenai sosok yang diidamkan oleh sang pemuda.

Review Gadis Pantai




Judul               : Gadis Pantai
Pengarang       : Pramudya Ananta Toer
Halaman          : 272 halaman
Cetakan           : Cetakan 7, september 2011
Penerbit           : Lentera Dipantara

Karya Pram khas dengan nuansa masa perjuangan dan masa penjajahan. Novel Gadis Pantai yang sebenarnya adalah trilogi, hanya sekuel pertama yang bisa dinikmati oleh generasi sekarang dan generasi mendatang. Sejarah menghendaki buah pikir yang tercantum dalam sekuel kedua dan ketiga buku ini musnah dan tak bisa didapatkan. Kuasa dan tirani pada masa itu, telah demikian beringas dan ketakutan, buku menjadi salah satu doktrinasi buruk pada masyarakat hanya karena keanggotaan kehormatan yang diberikan LEKRA (sayap kesenian partai Komunis Indonesia pada masa itu). 

Seperti tetralogi buru yang menceritakan minke,seorang terpelajar jawa piawai menulis, dengan tulisannya ia melawan, meski sekuat apapun minke melawan, dia hanyalah butiran debu bagi pemerintah Hindia Belanda. Yang tetap kalah dan mengalami sad ending. Diakhir, menurut catatan Pangemanann dengan dua n, setelah minke keluar dari tahanannya, semua yang dia miliki telah musnah, dan ia meninggal dengan sedikit orang yang kenal. Dianggap orang jalanan yang tak punya sanak, keluarga, handai taulan dan kenalan. Padahal pada masa jayanya dengan penerbitan berkala koran, tak ada seorangpun di tanah Jawa yang tidak mengenalnya. Budaya literasi dipilih oleh minke untuk melawan. Saat pendidikan telah memberikan setitik cahaya terang untuk keluar dari penjajahan dan penindasan.

Kelompok Sosial