Jumat, 30 Mei 2014

Maafkan Aku



Maafkan Aku

Oleh : Nuryanti

Kabut masih menyelimuti. Rasa malas menguar. Hawa dingin ini membuat orang enggan untuk keluar rumah. Orang-orang masih ingin mengenakan jaket yang tebal dan melindungi dari dinginnya pagi hari. “ahh... aku harus bangun pagi. Harus”, kata Yanti pada dirinya sendiri. 

Dengan mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya dia bangun. Diapun melakukan ritual paginya dengan bergegas. Mengambil air wudhu, sholat Shubuh, mandi dan berpakaian. Ia terbiasa santai. Bahkan dia tidak bisa melakukan banyak hal secepat orang lain. saat kondisi kritis seperti itulah, kelembutan dan kelemotannya menghambat aktivitasnya. Hari ini dia terdesak oleh waktu. 


Bahkan dia tidak makan sarapan. Dia merasa kalau dia sudah terlambat. Nasi pecel yang baru saja dibelikan langsung dimasukkan ke dalam tas ranselnya. “makan di sekolah aja bu, Yanti pamit ya. Assalamu’alaikum”, ia mencium tangan bapak dan ibunya. 

Hari ini adalah hari yang penting. Tidak hanya bagi Yanti seorang, tapi mungkin bagi sebagian pelajar Madrasah Aliyah di lingkup Kabupaten ini. hari ini ada event olimpiade mata pelajaran untuk siswa MA. Perhelatannya di MA Negeri di ujung selatan kabupaten ini. Masih jauh sekali. Perjalanan 1 jam lebih untuk mencapainya. Taj heran kami disuruh kumpul jam enam pagi untuk persiapan. Aku sudah memancal sepeda biru ini kencang-kencang. Menerobos dinginnya pagi hari. Diiringi dengan sinar mentari yang mulai menampakkan sinar wibawanya. “Wah, aku telat. Keringat membasahi dahinya, ia tak peduli. The most important is i must reach my school as soon as possible. 

Sayang ini adalah dunia nyata. Bukan dunia khayal. Dimana tidak ada sapu terbang Harry Potter, permadani terbang Aladin, atau Jaring laba-laba Spiderman. ataupun kisah yang  kuyakini nyatanya, peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad yang dalam waktu semalam bisa sampai ke Masjidil Aqso dan naik ke langit ke tujuh.

Aku masih harus mengayuh sepeda biru ini. mengayuhnya dengan kencang. Jika ingin segera sampai. Aku sepertinya tidak boleh mengharapkan keajaiban. Hanya kerja keras dan doa keselamatan supaya bisa sampai di sekolah dengan selamat. 

Kenapa perjalanan ini jadi sangat-sangat lama. Sebenarnya yang kutakutkan hanyalah satu. Bapak kepala sekolahku akan murka kepadaku yang suka telat ini. Beliau selalu mentolerir kesalahanku. Beliau adalah kepala sekolah yang bijaksana, dan kuyakin menyayangi aku. beliau selalu masuk pagi, kadang sampai sekolah lebih awal daripada siswa-siswanya. Teladan yang harus dicontoh. Beliau selalu memaafkan jika aku telat. Tidak seperti guru-guru lain yang pasti menghukumku karena ya kuakui aku memang salah. 

masihkah beliau mentolerir? Sedangkan ini bukan untuk sekolah biasa? Ini untuk lomba, yang jauh sekali tempat pelaksanaannya?

Ada sms masuk dari adik kelas. Segera kurogoh saku bajuku, dengan sedikit mengurangi kecepatan sepeda. “teman-teman cepat berangkat. Bapak kepala madrasah udah jengkel ini nungguin kalian”. 

Pertanda apa ini? beliau sudah jengkel?

Singkat cerita, aku sampai di sekolah. Kupinggirkan sepedaku didekat kantin. Kulihat raut muka tidak bersahabat di wajah bapak kepala madrasahku. Beliau sudah berkenan mengantarkan kami pagi ini, tapi kami muridnya masih banyak yang telat. 

Seorang guru menyuruhku lekas masuk. Serius, aku merasa bersalah. Sangat bersalah. Kenapa sepagi ini aku harus menghadapi situasi ini? dan aku belum sarapan. Perutku minta diisi sebenarnya. Tapi aku tak mungkin menunda perjalanan ini jika tidak ingin telat lebih lama. Aku baru melihat separoh rombongan, kutanya pada adek kelas yang sudah berkumpul di mobil itu.

          “lho, Imam dan yang lainnya dimana?”.

          “Belum datang mbak. Mungkin nanti ikut mobilnya Pak Andhi.”, jawabnya.

          Bismillah, subhanalladzi sakhoro lana hadza wama kuna minal khosiriin. Doa safar kupanjatkan. Semoga rombongan ini selamat Ya Allah. Dan aku tidak mabuk perjalanan. Amiiin.
          Perutku bergolak-golak saat berada di mobil. Aku tak ingin menambah murka bapak kepala madrasahku dengan mabuk perjalanan di mobil. Akupun menahan mulutku, sebenarnya aku tidak kuat dan ingin muntah. Ini perjalanan jauh, aku belum sarapan dan kumulai dengan suasana hati yang kacau. 

Setelah satu jam perjalanan kami sampai. Aku segera keluar dari mobil dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Subhanallah, madrasah tempat kami lomba nanti sangat indah. Dan sangat luas. Berbeda dengan sekolahku. 

Aku segera mencari masjid. Mengecek bungkusan nasi pecel yang kubawa dari rumah. Sudah agak penyet dan kertas minyaknya sudah mulai berwara hitam karena minyak. Whatever, tidak peduli banyak mata yang melihat aku makan dengan muluk di pinggir mushola. Aku cuek aja. Aku sadar sih, ini bukan madrasahku. Aku bertamu ke madrasah orang lain. aku harus menghargai adat sopan-santun. Tapi aku kan tidak melanggar apapun, dan satu hal aku lapar. Ya udah, aku makan. 

          Entah mengapa walaupun aku sudah makan, aku tetap merasa sedih. Semua orang berharap yang terbaik. Aku pun begitu. 

Tapi Ya Allah, apa yang terjadi terjadilah. Aku tak tahu skenario apa yang Kau siapkan untukku. Bagiku ini adalah pratanda. Bahwa banyak kerikil yang ada di depan mata. Yang jelas aku tak ingin mengecewakan Bapak Kepala Madrasahku yang sudah memberikan ilmunya padaku. Tapi muara dari segala usaha manusia, tetaplah hak prerogatif Tuhan untuk mengabulkan atau tidak.

Kini aku siap bersaing, tak peduli kalah atau menang.  

Kebonsari. 12 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kelompok Sosial