Sabtu, 31 Mei 2014

Kisah Cinta sang Tekhnokrat

Habibie dan Ainun

Kisah cinta yang sangat  indah. romantis kata anak jaman sekarang. romantis karena betapa rumah tangga beliau berdua adalah rumah tangga yang seimbang dalam hal dunia dan akhirat. antara iptek dan imtak. saya mengambil banyaj hikmah dari buku yang saya baca ini. bahwa yang menjadi pendamping seseorang, pasti sesuai dengan pribadi orang bersangkutan. jadi, sifat dan karakter kita akan berbanding lurus dengan jodoh kita.

bapak Habibie yang keren dengan pemikiran-pemikirannya. ternyata juga didukung dengan Bu Ainun yang juga seorang dokter. lulusan FK UI. walaupun tidak sebidang dalam pekerjaan dan passion, tapi mereka saling melengkapi. keluarga ini bisa dikatakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. betapa antara satu dan lainnya tidak egois dengan dirinya sendiri. Ibu Ainun selalu memperhatikan pak Habibie, sesibuk apapun beliau.



dan satu poin yang sesuai dengan ku adalah tentang adanya telepati. Bapak Habibie adalah orang yang sibuk dalam pekerjaannya, terkadang tidak ada waktu untuk keluarga. agenda keluarga sering tertunda karena tugas pekerjaan sebagai insinyur ataupun yang lain. tapi bu Ainun selalu pengertian, dan apabila pak Habibie mengalami kebuntuan dan kelelahan, ada bu ainun yang menyambut dengan senyum manis yang selalu dirindukan oleh pak Habibie

jadi teringat wejangannya mbak Ninna, ilmu itu adalah kebaikan, ilmu itu ibarat cahaya. pacaran itu adalah hal yang buruk. jadi apa mau ilmu disandingkan dengan pacaran?

ilmu adalah cahaya, dimana tidak akan masuk ke dalam hati yang gelap yang sudah terkotori dengan perilaku yang buruk

wejangan untuk tidak pacaran. dan walaupun aku menyimpan hati untuk seseorang, yang tak terungkapkan. dan diapun juga tahu ilmu agama, tak ada ungkapan atau kata-kata sayang, yang ada adalah tatapan mata yang menenangkan. itu jika kami bisa bertemu. yang itu hanay terjadi beberapa kali dalam hidupku.

tapi entah untuk dia, apa dia hanya menganggap aku sebagai teman? entahlah.. dia sekarang lagi muncak di lawu, ada janji yang terucap, ngajak muncak kapan-kapan.

aku menganggapnya sebagai sebuah janji, tapi entah dengan dia. mungkin itu sekedar gurauan.

biarlah aku melupakan rasa ini, yang sebenernya susah. Ya Allah apa yang terjadi terjadilah. .

tapi aku ingin menjaga hatiku untuk suamiku yang sah dan boleh memiliki hatiku sepenuhnya. suatu saat nanti. jika dan jika tidak dia, supaya aku tidak kecewa.

right now, it is not the time to think about him, but to think how i can explore myself be a orang yang bermanfaat.

semoga nilai-nilai baik dari buku ini bisa melekat baik dan menjadi salah satu inspirasi menjadi orang yang lebih baik. aamiin

Solo, 31 Mei 2014
23.05


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kelompok Sosial