Jumat, 02 Oktober 2020

Sakit Herpes dan Kehamilan

Halo, pada tulisan kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya sakit herpes. Awalnya badan terasa agak panas dan letih. Banyak saya pergunakan waktu untuk tidur siang. Berharap kecapekan biasa dan segera pulih.  Hingga, ada satu area kecil di punggung di area pinggang belakang yang luka. Karena lokasinya yang tidak bisa dijangkau saya agak mengabaikan. Mengira hanya bentol sementara.
Bagian yang tidak terlalu parah sudah mulai mengering


Luka juga mulai tumbuh di sekitar lipatan paha. Rasanya mulai nyeri dan perih. Rasa panas menjalar di daerah yang luka. Googling sana sini ternyata gejala herpes. Herpes yang saya alami karena dulunya pernah sakit cacar air, virusnya masih ada di dalam tubuh. Saat daya imun menurun, saat itulah virus kembali beraksi. 

Ayah saya menyarankan menggunakan remason/balsem. Beliau bercerita kalau kemarin pernah merasakan gejala yang sama dan akhirnya mengering dengan sendirinya. Ibu sempat melarang, terbayang luka yang memerah, dioles balsem yang berefek panas. Saya belum tentu kuat dengan efeknya. 

Namun, karena saking nyeri dan panas dari luka yang muncul, akhirnya saya putuskan memakai balsem juga. Rasa panas tak tertahankan, saya hilir mudik di dalam rumah supaya tidak terlalu kepanasan. Hingga kelelahan dan tertidur. 

Saat mandi sore, terlihat ada bercak kekuningan di baju yang saya kenakan pas di bagian luka. Saya merasa gembira, semoga ini tanda lekas pulih. Ternyata, itu baru permulaan. Herpes zoster ternyata tidak sembuh secepat itu. 

Herpes sesuai dengan yang saya baca di internet, proses penyembuhan sekitar 1-2 Minggu. Banyak saran dari kerabat maupun rekan untuk menggunakan salep-salep tertentu. 

Yang saya coba pertama adalah acyclovir resep dari puskesmas. Seorang kawan menyarankan virugon, ada pula yang menyarankan menggunakan minyak tawon untuk oles. Ketiga bahan ini saya gunakan bergantian. 

Suami membelikan cairan infus untuk mengompres luka dan supaya dingin. Ke bidan desa juga untuk minta obat yang aman untuk ibu hamil. Karena saat di puskesmas saya hanya diberikan Paracetamol oleh petugasnya. Obat dari bidan desa yaitu Paracetamol, amoxicilin dan vitamin c 50 mg. 

Suami disarankan beli vitamin C dalam kapasitas besar supaya daya tahan tubuh saya lebih baik. Dibelikan yang dosis 500 mg. 

Perkembangannya terlihat sangat pelan. Dan inilah tahap yang menguji kesabaran. Terkadang diperut bagian bawah terasa nyeri. Saya mengkhawatirkan herpes yang saya derita mempengaruhi kondisi janin yang saya kandung. Namun, orang terdekat selalu meyakinkan saya, untuk berpikir positif dan tidak terlalu khawatir dengan janin. 

Kehamilan saya memasuki usia 25/26 Minggu. Kalau dalam hitungan bulan, sekitar 6 bulan. Mohon doanya semoga saya lekas sehat, kehamilan saya sehat dan segera beraktivitas dengan normal lagi. 

Saran saya, tetap jaga kesehatan. Apalagi disaat kondisi pandemi seperti ini. Jaga kebersihan badan, lekas ganti baju saat merasa sudah gerah. Karena bakteri dan kuman menyukai wilayah yang lembab dari tubuh kita. Jaga pola makan dan istirahat yang cukup. Karena sehat itu mahal harganya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sakit Herpes dan Kehamilan