Rabu, 20 September 2017

KDRT Layaknya Gunung Es

Semenjak di rumah, saya jarang membuka facebook dan memperhatikan lini masa. Menilik beranda, ada mbak Kalis Mardiasih yang membagikan berita bbc mengenai KDRT hingga memotong kaki istri. Berita itu saya baca dengan seksama. Miris dan prihatin, itu yang saya rasakan.

Kala di rumah, media informasi saya hanya terbatas pada berita televisi. Media arus utama terutama di televisi tidak mengangkat kasus ini secara komprehensif dan masif, masih kalah riuh dengan headline pemberitaan politik rapat dengar pendapat pansus angket KPK, sakitnya Setya Novanto atau ISIS atau tablet PCC.

Kasus KDRT, banyak yang tidak dilaporkan karena dianggap tabu dan rahasia keluarga. KDRT baru menjadi perhatian dan headline ketika sudah sangat parah merusak raga korbannya. KDRT yang saya ingat betul adalah kasus Lisa penyiraman air keras hingga wajahnya rusak total. Kasus ini dulu sangat sering ditayangkan, hingga proses operasi perbaikan wajah yang diambil dari kulit punggung dilaporkan tiap step perkembangannya. Kasus itu, hingga sekarang masih saya ingat betul. Nyatanya ada manusia-manusia yang sedemikian dikuasai ego, hingga tega main tangan kepada manusia lain, orang yang ia ikat dalam tali pernikahan, yang harusnya ia kasihi dan cintai.

Perjalinan kasih suami dan istri diibaratkan seperti halnya bahtera di lautan lepas, tour laut yang penuh tantangan, masalah datang seperti halnya ombak, kadang berupa riak kecil, tak jarang pula badai besar menghantam sesuai dengan musim. Semua awak kapal harus bekerja sama, berkomunikasi dan menjalankan peran masing-masing supaya bisa menghadapi ombak sebesar apapun.

Hal menarik dari nasihat perkawinan Pak Yai Nur Muhammad Habibillah dalam mauidhoh hasanah ngunduh mantu pernikahan Mas Nur dan Mbak Eka pada tanggal 5 Maret 2017.  Beliau tekankan bagi mempelai laki-laki semarah apapun, jangan sampai main tangan. Kemarin kala sowan ke ndalem beliau di Jombang, hari Jum’at 8 September 2017. Beliau menasehati mas Nur supaya sabar mengemong istri. Selain itu tiap temu manten yang mengundang ustadz, rasa-rasanya wejangan melarang main tangan, selalu disampaikan sebagai pelajaran bagi si pengantin.

Nasehat dan anjuran kebaikan banyak bertebaran di sekitar kita, namun kadang manusia bebal untuk melaksanakannya. Ada pula manusia yang dikuasai rasa jemawa hingga merasa paling berkuasa.
Harusnya, tidak ada yang merasa superior, dan tidak ada pihak yang harus menjadi inferior. Tidak ada seorangpun yang bercita-cita dijadikan samsak laki-laki, begitupun harusnya tidak ada laki-laki yang bercita-cita jadi jagal untuk keluarganya sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kelompok Sosial