Selasa, 29 Agustus 2017

Harapan

Beberapa pekan ini, heboh tentang penipuan agen travel “first travel”. Banyak sekali korban yang melapor pada kepolisian. Kasus ini banyak disorot media karena besarnya nominal dan banyaknya orang yang mengadukan. Selain itu juga disebabkan karena gaya hidup mewah bos first travel.

Ada banyak perspektif yang digunakan. Ada yang berusaha bersikap adil dengan tidak menghujat berlebihan, mencoba bersikap jernih. Menggunakan perspektif anak tersangka yang bisa saja stres karena bullyan di sosial media. Padahal walau bagaimanapun jua, anak adalah entitas yang tak seharusnya turut menyandang beban sosial karena perkara ayah bundanya.

Ada pula berita tentang korban first travel yang meninggal karena terlalu syok dengan gagalnya perjalanan umroh mereka. Uang yang mereka investasikan untuk perjalanan impian, hilang seperti angin, entah bisa diajukan klaim pengembalian atau tidak.

Mereka sudah berlelah-lelah mengumpulkan pundi-pundi rupiah,  sudah terlanjur mengabarkan rencana umroh ke sanak kerabat dan tetangga, nyatanya jadi korban penipuan. Tentu ini  beban sosial bagi para korban. Perasaan malu pada tetangga, hilangnya harta tanpa kejelasan ganti rugi, dan harapan yang pupus begitu saja membuat resiko stres makin tinggi.

Setiap orang tentu memiliki harapan dan impian. Harapan di angan berusaha diwujudkan supaya menjadi kenyataan. Namun hendaknya kita juga memiliki sisi sabar dan tawakkal kepada Allah. Sebesar dan semegah apapun rencana kita sebagai manusia, jika Allah belum berkehendak untuk mengabulkan hajat kita, kita hanya bisa menjalankan apa yang sudah menjadi ketentuan Nya.

Jika sudah jadi korban, ya mau bagaimana lagi. Tetap lakukan kegiatan sehari-hari, beraktiivitas, mulai segala sesuatunya dari awal. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bisa hidup bahagia, anggap ini sebagai cobaan dan kesempatan untuk lebih teliti di masa depan. 

Ikhlaskan yang telah lalu. Jika kita sadar,  kita lahir ke dunia dalam keadaan telanjang, tanpa baju, tanpa status sosial, tanpa harta, tanpa pangkat dan jabatan. Harta yang kita cari lalu kita miliki hanyalah titipan.  Kita berpulang pun tak membawa harta benda, kecuali beberapa lembar kain mori saja.

Harapan yang baik tentu harus kita pupuk, namun kita harus menyertakan Allah dalam tiap keputusan yang kita ambil. Agar kala menemui geronjalan masalah yang menghantam, kita bisa tetap kokoh, meski tertatih dan sedih, setidaknya kita tidak tumbang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kelompok Sosial